Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | April 13, 2011

Bimbang

Apakah iya, masih berlaku dalam usiaku yang sudah mengijak 28 tahun untuk merasa bimbang dalam menentukan sebuah pilihan akan pasanan hidup. Sementara di luar sana, ada banyak bahkan ribuan orang-orang yang akhirnya memutuskan untuk menikah dalam usianya yang masih sangat muda belia. Lalu pertanyaannya kemudian muncul berulang-ulang, mengapa sudah seusia saya belum juga memutuskan untuk segera menikah?. Pertanyaan klasik yang tetap saja membuat fikiranku terganggu, bahkan yang lebih ekstrim lagi ketika pertanyaan berbuah pada tingkat emosional yang pada akhirnya membuahkan kemarahan. Entahlah, apakah saya masih mampu dalam perjuangan ini. Hidup hanya sekali, namun perjuangannya benar-benar harus sampai mati.

Masih dalam proses menjalankan takdir, menempuh hidup dengan sederhana, dengan penuh kesabaran dalam menanti yang tepat bagiku, bagi agamaku, juga tentunya buat keluargaku.

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | February 22, 2011

Mencari Tempat Pelarian

Seberapa mampu sebenarnya manusi melepaskan diri dari banyaknya masalah. Seberapa sanggupkah manusia bisa menghadapi semua yang terjadi dalam hidupnya dengan penuh kesabaran. Masihkah mencari tempat perlindungan lain selain kepadaNya?.

Saat kaki tak sanggup lagi rasanya untuk melangkah, bahkan sekedar menapak dan meluruskan saat berdiri. Semua terasa melemah, entahlah. Dan semua seperti berjalan di tempat, tak ubahnya pohon yang hanya dapat bergoyang, itupun jika terkena hembusan angin. Akankah hidup hanya bisa di umpamakan demikian?

Dan, saat semua seperti menolak keberadaan kita, semua menghakimi. Kemana lagi kah tampat kembali, ataukah kita akan mundur perlahan kemudian menghinakan diri kita di hadapan manusia bahkan Tuhan?. Kurang bijaksana jika memang pilihannya adalah demikian. Tentulah sebagai manusia yang diprakarsai oleh akal, tidaklah menjadi sedemikian picik untuk menentukan pilihan yang tidak bijaksana. Tempat kembali terbaik bagi kita adalah Tuhan, adalah Alloh SWT , DIA–lah sebaik-baik tempat kita kembali,  tempat pelarian yang sejatinya. Bukan tempat lain, dan bukan tempat manapun!

*masih lanjut* idenya ilang tiba2 T_T

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | January 27, 2010

^ Yang Diam ^

Secantik bunga musim semi, hatiku berkembang merekah indah

**Yang diam**
- Dalam diam, temaran senja seperti mentertawaiku
-Melihatku hanya terpaku, kau semakin asik menggodaku
-Tak terfikirkankah olehmu, aku sedang duduk di bangku rapuh ini
-Sementara kau hanya tersenyum memandangiku, tanpa mencoba menenangkanku

-Aku masih seperti yang kau kenal dahulu
-Banyak senyum dan tertawa
-Tapi aku tidak gila
-Sungguh ini aku yang merindu

-Rindu saat nafas bertemu dalam satu dawai kehidupan lepas
-Saat waktu sepakat akan kebahagiaan hanya milik kita
-Atau ketika , setiap mata terkagum karena kita dua pasang angsa yang saling berbeda, namun kita punya bahagia

-Dalam diam, selaksa cinta tak bergetar lagi
-Kau, aku, juga mereka
-Seperti patung yang terjemur masa
-Kelam, hitam dan tak lagi semenarik saat kali pertama perjumpaan

-Mengertilah, daun pucuk sembilu, menyayat rasa yang kusimpan sendiri
-Mencabik tenangku kala mata tak lagi mau terpejam
-Menggores luka yang sudah lama menganga
-Dan dalam diam,,temaram cahaya tak mampu lagi menjadi teman kesendirian

**hanya iseng by Suly Kasmaja**

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | January 3, 2010

mengirama diri

-Damai Nan Indah-
Nasheed by Hijjaz

Kepekatan malam dihiasi rembulan
Siang pula datang bersama sinaran mentari
Dalam resahnya hati ini
Kuturutkan langkah kaki, tak terasa ku lalu jalan yang berliku-liku

Kujatuhkan pandangan
Kulihat jurang dalam
Penuh dengan onak dan duri
Yang amat mengerikan

Kudongakkan kepala
Kulihat langit tinggi
Terbentang luas
Tiada bertepi

Cahayamu indah
Menyinari hidupku ini
Kasihmu tabah
Memupuk iman di jiwaku

Dalam cahayamu
Terang pelita di hatiku
Syiarmu indah
Musuhmu terpaku,,,,ya Allah,,,

Ya,,Rabbi,,,

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 9, 2009

Bukan tempat menangis dan mengeluh

**Bukan Curhatan**

Media blog ini bukan maksud untuk mengungkap seluruh perasaan-perasaan yang tautannya dengan hati. Bukan tempat untuk menumpahkan rasa sedih, pedih, pilu, atau sakit hati akibat Hati yang tidak dijaga dengan hati-hati.

Sekali lagi,disini bukanlah ajang untuk menujukan sebuah perasaan yang boleh jadi tidaklahpenting. Sungguh mengungkapkan Curahan Hati disini rasanya kurang bijaksana bukan. Akan banyak yang prasangka yang mungkin nantinya menimbulkan fitnah atau menjadi ghibah, nauzubillahimindzalik.

Jadi, sahabat,,,menulislah untuk hal-hal yang bermanfaat saja, hal-hal yang mengadung ilmu di dalamnya, atau sebuah hikmah yang dapat untuk diambil pelajaran untuk kehidupan kita. Jikalaupun hati sedang di rundung kemalangan sehingga sedih, pilu, pedih yang akhirnya memenuhi seluruh ruang hati, Adukanlah semuanya pada sang pemilik hati DIA-lah Rabb, yang maha kasih tanpa pilih kasih, DIA-lah Allah yang maha mencintai semua hamba-hambaNya yang mencitaiNya.

Wallahu’alam bishawab

Suly Kasmaja

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 9, 2009

Wanita Shalihah adalah seindah-indahnya Perhiasan

**Muhasabah Untuk Sendiri**

Subbhanallah….sungguh luar biasa, Maha besar Allah dengan segala yang diciptakannya dan di turunkannya. Detik berlalu begitu cepat, sang waktu tak’ mau mengalah dengan mau kita yang mungkin saja masih “terhambat”. Banyak hal yang mewarnai dalam hidup kita, dari cerita sedih, memalukan, bahagia sampai dengan cerita2 yang menggetarkan jiwa.


Dia adalah sahabatku, baru aku saja mengenalnya, mungkin baru satu hingga dua minggu ini. Dia anak baru dalam pertemuan pekanan kami, masih muda dan ramah. Sebut saja namanya L, nama yang indah sebetulnya yang ia miliki, seindah paras wajahnya yang ayu dengan jilbab warna ungu yang ia kenakan hari ini. Serasi dengan baju yang di pakainya, warna senada, perpaduan yang indah.


Awalnya kita memang hanya saling bercerita biasa, tentang pekerjaan dan pengalaman2 dalam pekerjaan dan sekolah. Tapi satu saat, ia mengatakan ingin bercerita hal yang mungkin seharusnya tidak harus diceritakan kepadaku, apalagi kita baru saja saling mengenal, rasanya terlalu dini. Ehem…aku sedikit menghela nafas, gerangan apa yang hendak ia ceritakan. Apakah masalah pribadi?, oh…semoga saja bukan.


Sebelum ia menceritakan yang ia mau, aku sedikit bercerita tentang pengalaman2 penuh hikmah, aku ceritakan pada saat aku mengisi sebuah “Pesantren Kilat” anak2 SMA di jakarta. Aku katakan padanya, bahwa sebenarnya anak2 remaja usia belasan tauh itu hanya butuh untuk di dengarkan, kita tidak perlu memberikan ceramah yang sifatnya terlalu mengekang, justru mereka akan “mental” dan pada akhirnya akan antipati dengan tujuan kita, yaitu mengenalkan bahwa “Islam adalah agama yang Indah”. Panjang lebar aku jelaskan tentang pengalaman mengajar anak2 SMA, ia merasa bahwa ceritaku ini sangat menggetarkan jiwanya, rupanya L sedang taraf pencarian jati diri. Mungkin keadaanya sama sepertiku ketika aku berusia seumurannya waktu dulu.


Cerita aku lanjutkan dengan hubungan kita kepada orang tua, aku katakan padanya, bahwa pada dasarnya orang tua itu akan sangat “gengsi” mengakui kebenaran yang kadang kita sampaikan terhadap mereka. Aku bercerita tetang orang tua, karena L mengungkapkan tentang hubungannya dengan orang tuanya, sebetulanya tidak ada masalah dengan orang tuanya tapi aku bisa menangkap apa yg hendak ia maksudkan.

L adalah seorang “mualaf”, melihatnya semangat ingin tau banyak tentang Islam, akupun tak kalah semangat untuk menguatkan hati dan meneguhkannya agar ia tak menjadi bimbang dan tak menjadi ragu. Akupun tak banyak memerintahnya, hanya saja cerita2 yang berikan terhadapnya adalah pengalaman2 yang memang nyata dan mungkin ini akan masuk dalam akal sehatnya. Semoga demikian. Aku katakan sekali lagi, bahwa yang membedakan kita dengan yang lainnya adalah dalam hal “ketaqwaan” kita. Aku juga menerangkan sedikit tentang “niat”, segala sesuatu yang kita lakukan tergantung “niat” kita pada mulanya. L tampaknya memang anak yang cerdas, karena ia mampu menangkap ke arah mana pembicaraanku. Ini luar biasa buat anak seusianya.


L memotong pembicaraanku, ia katakan ingin bercerita hal yang sangat penting. Aku mulai menerka-nerka, tapi aku tidak ingin “berprasangka” buruk terhadapnya. L mulai bercerita, aku manggut2, ngerti, sedih, tapi juga prihatin. Ketika L selesai bercerita, aku mencoba memberikan senyuman terikhlas yang aku bisa. L nampak tenang dibanding sebelumnya, mungkin ia telah lega bercerita tentang masalahnya terhadapku.


Ehemmm….ku hela nafas dalam2…., dan hatiku berbicara sangat “nyaring”, ia meneriakiku, bahwa cerita yang baru saja aku dengar seperti cerminan diri, karena hal yang serupa pernah menimpaku, dan aku susah payah untuk mengembalikan hati dan fikiranku untuk kembali normal kembali. Aku berusaha tenang, mencoba memberikan masukan se”bijak” yang ku bisa.


Aku hanya mampu menasihatinya:
L…sebaiknya kita kembalikan niat kita awal, niatkan hanya Allah saja yang kita tuju
L…Insyaallah kita pasti bisa melewati ujian kali ini, karena cerita tadi, bisa jadi merupakan ujian untuk kenaikan tingkat
L…Cinta yang sejati hanyalah Cinta kita kepada Allah, dan Rasullnya
L…Jangan biarkan Panah2 SETAN, bermain diantara perjuangan kita dalam meraih RidhoNya
L…Serahkan semuanya kepadaNya, Ia yang mampu membolak-balikan hati manusia, jadi sepantasnyalah kita serahkan segala urusan dunia kita padaNya


L…., terima kasih karena kehadiranmu membuatku semakin sadar, bahwa “hidup” ini luar biasa indah, marilah L, kita sama2 memperbaiki diri, berasama-sama meraih MahabbahNya, bersama-sama kokohkan hati kita untuk diCintaiNya. Semoga ceritamu membuat kita semakin sabar dan ikhlas dengan diri yang di takdirkan sebagai “wanita”. Biarlah kemuliaan sebagai seorang wanita hanya Allah saja yang akan menilainya.

Amiinnnnnnnnn

Wallahu’alam bishwab

Suly Kasmaja

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 9, 2009

Warna Senja Mewakili Perasaan Hati

Satu ketika ada yang bertanya padaku tentang perasaan hatiku yang saat itu terlihat sangat bersemangat, lalau ku jawab hatiku saat itu seperti warna SENJA. lalu kau malah merasa sedih dengan jawabanku. ku terangkan kemudian, bahwa warna senja sangatlah indah untuk sebagian orang yang memiliki rasa yang spesial, ku terangkan tentang warna ini terhadapmu:

kau tau ada berapa warna yang terlihat saat kau lihat senja datang?

“MERAH, ORANGE, PUTIH, KUNING”, benar sekali warna2 itu adalah warna yang paling dominan ketika senja mulai mucul, filosofinya seperti ini:

Merah: jika hati sedang diliputi rasa bahagia maka warna merah ini mewakili perasaan yang menggebu2.., merah juga menggambarkan sebuah kehangatan
Kujelaskan lagi tentang warna orange, dia adalah simbol yang mewakili perasaan friendly jika perasaan itu tumbuh maka suatu hubungan akan terjalin lebih akrab layaknya jalinan seorang teman.

Warna Putih:…semua orang faham betul dengan karakter warna yang satu ini, selain membawa rasa nyaman, putih juga memberikan kesan sesuatu yang tulus, jika di kaitkan dengan perasaan, berarti perasaan ini tumbuh dari rasa ketulusan, kemurnian, kesucian, atau bahkan sebuah pengabdian.

Kuning;…biasanya ini diartikan dengan sebuah “kemenangan”, kuning mengartikan juga sebagai lambang ‘kebanggaan’, atau sebuah “kemewahan”, perasaan yang di liputi warna ini berarti sebuah perasaan yang sangat luar biasa, bersamanya kita akan merasa ‘berbangga’ diri, merasakan sebuah kemanangan merebut hati, merasa mewah memilikinya…

Ehemmm jadi , kesimpulananya warna2 dalam sebuah senja, adalah warna2 yang dapat mewakili sebuah perasaan hati.


Cerita tentang Senja ini, karena pada suatu ketika ada yang menanyakan tentang perasaanku yang saat itu seperti Warna senja, karena itulah ku tuliskan untuknya.

Cerita ini telah di posting di media lain, ditulis pada tanggal 15 Maret 2009

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 9, 2009

Salah Siapa?

Pernahkah sahabat mengalami satu masa dimana kita dalam kondisi yang sangat “Terpuruk”. Mungkin saja hampir semua manusia pernah mengalaminya, itulah mengapa manusia bisa menjadikan dirinya tampil lebih hebat dari mahluk-mahluk Allah lainnya.

Manusia diciptakan Allah SWTdengan segala “Kelebihan” nya, kadang kala menjadikan manusia itu menjadi sombong lagi tamak terhadap dunia, yang padahal keberadaannya di dunia hanya sementara. Meskipun telah menyadari bahwa tempat kita yang abadi di akhirat, namun acapkali manusia seolah mengabaikannya. Inilah yang menyebabkan manusia itu tergelincir oleh ulahnya sendiri, padahal dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, manusia di ingatkan akan hari pembalasan yang amat sangat pedih.

Jadi, salah siapa ketika pada akhirnya banyak manusia yang tidak terselamatkan dari Api Neraka, apalagi khususnya kaum Hawa. Sebagai kaum hawa, saya sebetulnya sangat menyadari akan hal ini, maka dengan berbekal ilmu yang bahkan “seUjung kuku” pun masih kurang, saya hanya ingin berbagi tentang pentingnya Memperbaiki diri.

Saling nasihat menasihati, seperti yang Allah katakan di dalam Al-Qur’an, maka untuk sahabat sekalian, jika ada dari tulisan-tulisan dalam blog ini yang menyinggung atau bertentangan dengan kebenaran, maka kewajian sahabat sekalian untuk bisa mengingatkan, sehingga tidak berlarut-larut dalam satu kesalahan.

Kembali pada hal dimana manusia dalam kondisi dibawah secara pandangan manusia atau biasanya populer dengan istilah terpuruk. Jarang yang bisa menerima keadaan dirinya pada saat musibah menimpanya, atau hal buruk menghampirinya. Tidak sedikit pula yang akhirnya mengakhirinya dengan hal yang sia-sia atau bahkan dilarang dalam agama.

Banyak yang tidak bisa menerima, ketika kondisi hidupnya tidak sesuai apa yang direncanakannya. Hingga akhirnya banyak pula kasus bunuh diri Nauzubillahimindzalik, atau yang akhirnya mencari jalan pintas yang sungguh di luar jalur syar’i.

Sahabat,,,tidak lantas kita bisa seenaknya saja menyikapi kehidupan kita ini, karena kelak Allah akan meminta kita untuk mempertanggungjawabkannya. Dan pada saat itulah kita sungguh sudah tidak bisa lagi untuk sekedar memperbaikinya, karena penyesalan di alam akhirat tidaklah berlaku.

Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa, ketika kehidupan kita tidak sejalan dengan apa yang kita mau. Jangan pernah menyalahkan orang lain ketika keterpurukan akhirnya menyambangi kita. Kitalah yang menjadikannya penderitaan itu datang dan menimpa kita, hingga rasa sedih, pilu, sakit atau bahkan di abaikan oleh manusia lain itu terjadi. Karena susungguhnya segal keburukan yang menimpa kita, itu adalah buah dari perbuatan kita sendiri. Seperti pepatah orang-orang bijak mengatakan “Jika menanam biji yang baik, maka buah yang akan tumbuh adalah buah yang baik, tapi jika menanam biji yang buruk, maka buahnyapun akan buruk”.

Wallahu’alam bishawab

Suly Kasmaja

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 8, 2009

For my lovely sister

Untuk Angsa Putih-ku
by: suly kasmaja, Agustus 31st 2009

Menyebutnya sebagai sebuah luapan emosi
Tapi bukan pada perkara seberapa sanggupkah, atau seberapa pantaskah
Sepanjang sejarah kehidupan, aku hanya mengenal satu kata
Kali pertama kata yang membuatku merasa sangat di hargai

Mungkin bukan pada tataran apakah aku mencitainya
Ataukah sekedara mengaguminya
Yang terasa saat ini hanyalah sebuah rasa yang mengingikan hadirnya
Kehadiarannya yang penuh tawa, canda, dan warna

Seperti saat wajahnya menyeringaikan rasa gembira
Mengabarkan bahwa hatinya penuh dengan bunga kebahagiaan
Menceritakan cerita sendu yang menjadikannya sebagai manusia paling berharga
Saat, ku temukan kembali mata binar penuh kewibawaanmu

Kau tau,,,,
Rasa rindu ini tak mungkin terganti
Rasa sayang ini hanya akan terberi olehmu
Rasa cinta ini akan lebih hidup saat kehadiranmu
Karena kau, aku menjadi sangat putik, seperti angsamu yang menjadi cirikhas hidupmu

Dedikasi untuk mba ipur “Purwati Kasmaja”

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 8, 2009

Just For My husband, insyaAllah

IJINKAN

dari majalah Mutiara Amaly

volume 64 hal 25 dengan sedikit pengubahan

==================================

Ya Allah,

Ijinkan daku menjadi sekuntum bunga,

Yang di hiasi dengan kelopak akhlaq mulia,

harum wanginya dengan ilmu agama,

cantiknya karena iman dan taqwa,

namun keindahan dzahir* nya, ku simpan rapi,

biar menjadi rahsia yang kekal abadi,

bukan perhatian mata ajnabi*,

yang menjadi puncak fitnah hati,

Ya Allah,

Timbulkanlah duri yang memagari diri,

agar diriku terpelihara dari noda duniawi,

yang akan menghilangkan keharuman sejati,

yang akan memudarkan kecantikan diri,

disebalik kekurangan yang tercipta,

bukanlah alasan untuk bermuram durja,

karena setiap yang tercipta ada hikmahnya,

ijinkan yaa Allah…., agarku menjadi permata,

tetap menyinar walau di lumpur hina,

tetap berharga walau dimana saja,

buat ummah dan juga keluarga,

ijinkan daku menjadi seindah mawar berduri,

yang menjadi impian setiap muslimah,

yang indahnya bukan untuk lelaki,

tapi permata buat makhluk yang bernama

suami….

================================

*dzahir : terlihat secara lahiriyah

*ajnabi: non mahrom (bukan muhrimnya)


Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 8, 2009

Bila sedih di pasir, bila Bahagia di Batu

Ini adalah karya gemilang seorang penulis dengan kelembutan hati yang akan menyentuh setiap diri yang merindukan sebuah Nasihat. Karya indah dari kumpulan Buku Kekuatan Cinta nya Irfan Toni Herlambang ini, tersusun rapi dalam “30 Nasihat bagi Para perindu Nur Illahi”

Selamat menikmati para pencari Hidayah Allah SWT

**Pasir dan Batu**

Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang berterbangan memaksa mereka berjalan menunduk.

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir bertebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka menglepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling berjaga dengan tangan saling berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukkan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk termenung, menyesali kehilangan itu. “Ah…, tamatlah riwayat kita,” kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.”

Kawannya, si pengembara kedua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat.” Seru salah seorang di antara mereka. “Lihat ada air di sana.”

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air.

Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir?”

Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa yang cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan semuanya tersimpan.”

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?

Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak  ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi  panjangnya hidup ini.

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 8, 2009

Bahkan hingga mengemis “kepercayaan”

Untuk menjadi manusia yang bisa dipercaya oleh manusia lainya, tentulah sangat berat, apalagi setelah melakukan satu perbuatan yang mecabik sebuah kepercayaan. Owh,,,,rasanya jadi sangat sakit, sedih, pilu, tapi apakah masih boleh jika memang sudah kehilangan satu kata yang berarti itu.

Rasanya menjadi sangat tidak berharga, tidak memiliki tulang jika diumpamakan sebagai badan. Tidak memiliki sebuah kelopak, jika diumpamakan bunga. Tak lagi memiliki madu jika diumpamakan sebagai lebah.

Ya Rabb,,,
Kaulah yang memiliki hati dan segenap perasaan yang dimiliki tiap hamba-hamba-Mu. Jikalau sebuah ujian yang kau timpakan adalah untuk menaikan derajat hambaMu, lalu sampaikapankah kau akan memberi sebuah cahaya kebahagiaan itu.

Ya Rabbana,,,
Jika saja boleh untuk manusia tak memiliki pilihan, maka biarlah semuanya aku mengikuti sesuai mauMu,,,

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 8, 2009

Hati

Kebahagiaan adalah bukan seberapa besar kita dapat memperoleh sesuatu yang kita inginkan, tetapi kebahagiaan adalah lebih dari sekedar itu, tetapi kebahagiaan yang sebenar letaknya di Hati. Bahagia atau tidaknya manusia, tergantung keadaan hatinya, wallahu’alam bishawab.

Jika hati menjadi kering, tentulah bukan tanpa sebab. Ada banyak faktor yang pastinya menyebabkan hati menjadi kering atau bahkan sampai mati, naudzubillahimindzalik.  Dan seperti yang di terangkan dalam dalam banyak refrensi buku agama, banyak di jelaskan disana bahwa: “Kekonsistenan hati bisa digapai melalui Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT”. Atau seperti yang popular dalam tradisi sufi terdapat ungkapan yang berbunyi, “Man’arafa nafsahu faqad’arafa rabbahu” (siapa yang mengenal dirinya, akan (mudah) mengenal Tuhannya).

Dalam ungkapan lain di katakana bahwa Hati manusia itu ibarat cermin yang akan mengilap dan memantulkan cahaya jika selalu dibersihkan dari noda. Jika hati dipenuhi noda—yaitu, perbuatan yang berseberangan dengan sifat-sifat Allah yang indah dan mulia—ia akan berkarat dan sulit menerima cahaya.

Itulah mengapa peranan hati sungguh sangat terkait dengan kesehatan Mental kita atau bahkan yang lebih Nyata –yaitu tubuh kita. Banyak kisah, ketika orang menderita kanker hati, berapa persen kemungkinan orang itu bisa bertahan hidup lebih lama, lalu kita bandingkan dengan kesehatan Hati secara aastrak—-yaitu hati dalam arti “Qolb”, jika hati kita berpenyakit, maka akan menjadi sakitlah bagian tubuh kita yang lainnya, semua organ jadi tidak berfungsi lagi.

Oleh karenanya, penging bagi kita untuk selalu memperbaiki Hati kita, selalu memperbaiki Iman kita, karena Iman erat kaitannya dengan Hati kita. Begitulah, manusia hanya bisa berusaha untuk menjadi yang lebih baik, paling tidak utuk urusah masalah Hati.

Oleh: Suly Kasmaja

Desember, 08 2009 14:02

Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 27, 2007

Sore, setelah wisuda itu

Well,,,
Banyak kenangan, setalah untuk sekian lama menyandang status “mahasiswa Abadi”, oh,,,tidak lagi untuk sore hari ini, karena pagi tadi, iya pagi tadi, baju itu akhirnya ku kenakan, baju yang mana banyak orang memimpikan untuk segera mengenakannya dengan berbagai alasannya—itupun yang ku rasakan seperti pagi hari tadi.

Tidak ada kepentingan apa2, tidak ada tendesi apa2, sehingga untuk cerita sampah seperti ini saja harus ku tuliskan di media ini, apakah ingin dibilang banyak orang bahwa kamu ini ternyata punya bakat menulis?,,,heii,,Kemon,,,janganlah menganggapku seperti itu, tolonglah,,

aku tak punya maksud apapun dengan seluruh tulisan yang kelak akan ku tuangkan di media yang canggih ini, sehingga tak keberatan jika kelak kalianpun dapat membaca apa yang ku tuliskan di sini. Kedengarannya emang Narsis sih, ah,,itu hanya prasangka kalian saja.

Percayalah bahwa hari ini adalah hari paling Indah,,, sudah tau kan
Yap,,tepat sekali, hari ini, hari dimana aku di wisuda, menyandang Gelar “Sarjana Ekonomi Islam”….hohooo,,,, Seem nice to listen,,,hehe,,

Begitulah hari ku kali ini,,
Rencananya tanggal 9 Februari 2009 tahun dan bulan depan aku akan ke Jepang, semoga disana kudapai mimpi yang di Indonesia tak ku jumpai, bukan tdk ku jumpai, belum ku jumpai kali ya,,,

Hemmm sudah ya,,,rasanya sudah sore, harus balik dulu, ini kan di warnet tetangga, tuh udah Enem rebu,,hwaaa,,gaswatttttttttt

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.