Posted by: Suly Bungsu Kasmaja [QueenFa] | December 9, 2009

Wanita Shalihah adalah seindah-indahnya Perhiasan

**Muhasabah Untuk Sendiri**

Subbhanallah….sungguh luar biasa, Maha besar Allah dengan segala yang diciptakannya dan di turunkannya. Detik berlalu begitu cepat, sang waktu tak’ mau mengalah dengan mau kita yang mungkin saja masih “terhambat”. Banyak hal yang mewarnai dalam hidup kita, dari cerita sedih, memalukan, bahagia sampai dengan cerita2 yang menggetarkan jiwa.


Dia adalah sahabatku, baru aku saja mengenalnya, mungkin baru satu hingga dua minggu ini. Dia anak baru dalam pertemuan pekanan kami, masih muda dan ramah. Sebut saja namanya L, nama yang indah sebetulnya yang ia miliki, seindah paras wajahnya yang ayu dengan jilbab warna ungu yang ia kenakan hari ini. Serasi dengan baju yang di pakainya, warna senada, perpaduan yang indah.


Awalnya kita memang hanya saling bercerita biasa, tentang pekerjaan dan pengalaman2 dalam pekerjaan dan sekolah. Tapi satu saat, ia mengatakan ingin bercerita hal yang mungkin seharusnya tidak harus diceritakan kepadaku, apalagi kita baru saja saling mengenal, rasanya terlalu dini. Ehem…aku sedikit menghela nafas, gerangan apa yang hendak ia ceritakan. Apakah masalah pribadi?, oh…semoga saja bukan.


Sebelum ia menceritakan yang ia mau, aku sedikit bercerita tentang pengalaman2 penuh hikmah, aku ceritakan pada saat aku mengisi sebuah “Pesantren Kilat” anak2 SMA di jakarta. Aku katakan padanya, bahwa sebenarnya anak2 remaja usia belasan tauh itu hanya butuh untuk di dengarkan, kita tidak perlu memberikan ceramah yang sifatnya terlalu mengekang, justru mereka akan “mental” dan pada akhirnya akan antipati dengan tujuan kita, yaitu mengenalkan bahwa “Islam adalah agama yang Indah”. Panjang lebar aku jelaskan tentang pengalaman mengajar anak2 SMA, ia merasa bahwa ceritaku ini sangat menggetarkan jiwanya, rupanya L sedang taraf pencarian jati diri. Mungkin keadaanya sama sepertiku ketika aku berusia seumurannya waktu dulu.


Cerita aku lanjutkan dengan hubungan kita kepada orang tua, aku katakan padanya, bahwa pada dasarnya orang tua itu akan sangat “gengsi” mengakui kebenaran yang kadang kita sampaikan terhadap mereka. Aku bercerita tetang orang tua, karena L mengungkapkan tentang hubungannya dengan orang tuanya, sebetulanya tidak ada masalah dengan orang tuanya tapi aku bisa menangkap apa yg hendak ia maksudkan.

L adalah seorang “mualaf”, melihatnya semangat ingin tau banyak tentang Islam, akupun tak kalah semangat untuk menguatkan hati dan meneguhkannya agar ia tak menjadi bimbang dan tak menjadi ragu. Akupun tak banyak memerintahnya, hanya saja cerita2 yang berikan terhadapnya adalah pengalaman2 yang memang nyata dan mungkin ini akan masuk dalam akal sehatnya. Semoga demikian. Aku katakan sekali lagi, bahwa yang membedakan kita dengan yang lainnya adalah dalam hal “ketaqwaan” kita. Aku juga menerangkan sedikit tentang “niat”, segala sesuatu yang kita lakukan tergantung “niat” kita pada mulanya. L tampaknya memang anak yang cerdas, karena ia mampu menangkap ke arah mana pembicaraanku. Ini luar biasa buat anak seusianya.


L memotong pembicaraanku, ia katakan ingin bercerita hal yang sangat penting. Aku mulai menerka-nerka, tapi aku tidak ingin “berprasangka” buruk terhadapnya. L mulai bercerita, aku manggut2, ngerti, sedih, tapi juga prihatin. Ketika L selesai bercerita, aku mencoba memberikan senyuman terikhlas yang aku bisa. L nampak tenang dibanding sebelumnya, mungkin ia telah lega bercerita tentang masalahnya terhadapku.


Ehemmm….ku hela nafas dalam2…., dan hatiku berbicara sangat “nyaring”, ia meneriakiku, bahwa cerita yang baru saja aku dengar seperti cerminan diri, karena hal yang serupa pernah menimpaku, dan aku susah payah untuk mengembalikan hati dan fikiranku untuk kembali normal kembali. Aku berusaha tenang, mencoba memberikan masukan se”bijak” yang ku bisa.


Aku hanya mampu menasihatinya:
L…sebaiknya kita kembalikan niat kita awal, niatkan hanya Allah saja yang kita tuju
L…Insyaallah kita pasti bisa melewati ujian kali ini, karena cerita tadi, bisa jadi merupakan ujian untuk kenaikan tingkat
L…Cinta yang sejati hanyalah Cinta kita kepada Allah, dan Rasullnya
L…Jangan biarkan Panah2 SETAN, bermain diantara perjuangan kita dalam meraih RidhoNya
L…Serahkan semuanya kepadaNya, Ia yang mampu membolak-balikan hati manusia, jadi sepantasnyalah kita serahkan segala urusan dunia kita padaNya


L…., terima kasih karena kehadiranmu membuatku semakin sadar, bahwa “hidup” ini luar biasa indah, marilah L, kita sama2 memperbaiki diri, berasama-sama meraih MahabbahNya, bersama-sama kokohkan hati kita untuk diCintaiNya. Semoga ceritamu membuat kita semakin sabar dan ikhlas dengan diri yang di takdirkan sebagai “wanita”. Biarlah kemuliaan sebagai seorang wanita hanya Allah saja yang akan menilainya.

Amiinnnnnnnnn

Wallahu’alam bishwab

Suly Kasmaja

Advertisement

Responses

  1. :) sekarang si L nya gimana ya mbak fara…
    jadi pengen tau dech :)

    HIDUP!!! ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.